Selamat Datang di Website SMK SUNAN KALIJOGO. Terima Kasih Kunjungannya

Pencarian

Kontak Kami


SMK SUNAN KALIJOGO - LUMAJANG

NPSN : 20558427

Jl. Kidul Sawah Desa Tanjung Kec. Randuagung Kab. Lumajang Kode POS: 67354


info@smksunankalijogolmj.sch.id

TLP : 081336852121


          

Banner

Jajak Pendapat

Bagaimana pendapat anda mengenai web sekolah kami ?
Sangat bagus
Bagus
Kurang Bagus
  Lihat

Statistik


Total Hits : 5284
Pengunjung : 1909
Hari ini : 6
Hits hari ini : 42
Member Online : 11
IP : 54.224.13.210
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Status Member

  • keadilan (Tamu)
    2017-08-14 21:51:02

    1|7
  • keadilan (Tamu)
    2017-08-06 22:44:06

    pak
  • keadilan (Tamu)
    2017-08-06 18:08:06

    1|6
  • keadilan (Tamu)
    2017-08-06 18:04:16

    1|5
  • keadilan (Tamu)
    2017-08-06 18:03:03

    1|4
  • keadilan (Tamu)
    2017-08-06 17:19:11

    1|3
  • keadilan (Tamu)
    2017-08-06 16:52:16

    1|2
  • keadilan (Tamu)
    2017-08-06 16:51:39

    1|1
  • keadilan (Tamu)
    2017-08-06 16:45:50

    assalamualaikum pak

STUDI KOMPARATIF TINGKAT KEBUGARAN JASMANI PESERTA DIDIK LAKI-LAKI KELAS 4, 5 DAN 6




STUDI KOMPARATIF TINGKAT KEBUGARAN JASMANI PESERTA DIDIK LAKI-LAKI KELAS 4, 5 DAN 6 DI SDN MOJOLANGU 04 KECAMATAN LOWOKWARU KOTA MALANG

Agung Fadlillah, Siti Nurrochmah, dan Usman Wahyudi

Universitas Negeri Malang

E-mail: agungfadlillah19@gmail.com

                                                                                   

Abstract: Education of Fitness, sport and health is a medium to push the growth of physic, development of psychic, motoric skill, knowledge and rationalization, comprehension of the values (attitude, mental, emotional, sportsmanship, spiritual, social), and deviation of healthy life model to stimulate the growth and development of physic and psychic which is balance. The role of physique education becomevery central not only as the subject but also as the method to keep the level of students’ fitness.

 

Keywords: Body Fitness, Male Students, Grade 4,5, and 6 of Elementary School.

Abstrak: Pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan merupakan media untuk mendorong pertumbuhan fisik, perkembangan psikis, keterampilan motorik, pengetahuan dan penalaran, penghayatan nilai-nilai (sikap-mental-emosional-sportivitas-spiritual-sosial), serta pembiasaan pola hidup sehat yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan kualitas fisik dan psikis yang seimbang. Peran pendidikan jasmani menjadi sangat sentral bukan hanya sebagai mata pelajaran tetapi juga sebagai sarana untuk menjaga tingkat kebugaran peserta didik.

 

Kata Kunci: Kebugaran Jasmani, Peserta Didik Laki-Laki, Kelas 4, 5 dan 6 Sekolah Dasar.

 

 

Lembaga pendidikan dipandang sebagai industri yang dapat mencetak jasa, yaitu jasa pendidikan. Lewat pendidikan orang mengharap supaya bakat, kemampuan dan kemungkinan yang dimiliki bisa dikembangkan secara maksimal agar orang bisa mandiri dalam proses membangun pribadinya. Pendidikan mempunyai tujuan untuk menyiapkan aspek jasmani dan rohani manusia, hal ini tentunya bisa didapatkan di lembaga pendidikan yakni sekolah.

            Sekolah sebagai lembaga pendidikan merupakan sarana yang dirancang untuk melaksanakan pendidikan. Semakin maju masyarakat maka semakin penting peranan sekolah dalam mempersiapkan generasi muda sebelum masuk masuk ke dalam proses pembangunan masyarakat. Oleh karena itu sekolah diharapkan mampu untuk menjadi pusat pendidikan sehingga mampu melaksanakan fungsi sebagai pendidikan secara optimal yaitu mengembangkan kemampuan dan meningkatkan mutu kehidupan dan martabat bangsa Indonesia.

Salah satunya melalui pendidikan jasmani yang diberikan oleh pendidik di sekolah. Dalam kaitannya dengan pendidikan, Guru perlu mengetahui benar sifat serta karaktristik tersebut agar dapat memberikan pembinaan dengan baik dan tepat sehingga dapat meningkatkan potensi kecerdasan dan kemampuan anak didiknya sesuai dengan kebutuhan anak dan harapan orang tua pada khusunya serta masyarakat pada umunya.

Karena pendidikan jasmani yang dilakukan secara benar merupakan wahana yang mampu dimanfaatkan untuk mendidik peserta didik, sebagai upaya pendidikan yang mengandung nilai-nilai luhur dalam membina dan mengembangkan potensi-potensi insane dari peserta didik secara keseluruhan (Soepartono, 2001:2). Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan jasmani (Budiwanto dan Mu’arifin 2006:3) yaitu: Pertama untuk mengetahui kemampuan, pretasi, dan kemajuan belajar peserta didik dalam pendidikan jasmani sesuai dengan tujuan pendidikan yang ditetapkan. Kedua, untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan peserta didik pada suatu materi atau unit mata pelajaran pendidikan jasmani. Ketiga untuk mengetahui status akademik peserta didik dalam kelompoknya. Keempat, untuk keperluan penjurusan dan pengelompokan sesuai dengan bakat, minat dan kemampuan peserta didik. Kelima, untuk memberi laporan kepada peserta didik, wali atau orang tua peserta didik. Keenam, untuk dijadikan sebagai bahan informasi bagi masyarakat yang memerlukan personil lulusan. Ketujuh, untuk member informasi atau data yang diperlukan untuk kegiatan penelitian.

Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) (2006:512) bahwa:

Pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan merupakan media untuk mendorong pertumbuhan fisik, perkembangan psikis, keterampilan motorik, pengetahuan dan penalaran, penghayatan nilai-nilai (sikap-mental-emosional-sportivitas-spiritual-sosial), serta pembiasaan pola hidup sehat yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan kualitas fisik dan psikis yang seimbang.

Jadi hakikat dari pendidikan jasmani adalah satu proses pendidikan yang dilakukan secara sadar melalui kegiatan jasmani yang intensif. Sedangkan menurut Sudarsini (2013:89) Pendidikan Jasmani adalah olahraga yang dilakukan tidak semata-mata untuk mencapai prestasi, terutama dilakukan di sekolah-sekolah, terdiri atas latihan-latihan tanpa latihan-latihan dengan alat, dilakukan di ruangan dan di lapangan terbuka.

Peran pendidikan jasmani menjadi sangat sentral bukan hanya sebagai mata pelajaran tetapi juga sebagai sarana untuk menjaga tingkat kebugaran peserta didik. Hal ini sesuai dengan  tujuan pendidikan jasmani yaitu membantu peserta didik dalam meningkatkan kebugaran jasmani dan kesehatan melalui pengenalan dan penanaman sikap positif serta kemampuan penguasaan gerak dasar dari berbagai aktivitas jasmani (Carsiwan, 2005:1). Peserta didik yang memiliki derajat kebugaran jasmani yang tinggi akan menopang terhadap aktivitas kegiatan belajarnya dan meningkatkan kinerja serta mampu untuk melakukan aktivitas fisik lainnya seperti jalan-jalan, aktivitas olahraga dan kegiatan pengisi waktu luang lainnya (Nurhasan, 2001:130).

Kebugaran jasmani erat kaitannya dengan kesehatan yang dimiliki oleh individu. Seseorang, baik tua maupun muda perlu memiliki tingkat kebugaran jasmani yang baik agar dapat melakukan tugas sehari-hari secara optimal (Sujiono, 2014:7). Kian tinggi derajat sehat dinamis seseorang, kian besar kemampuan kerja fisiknya dan kian kecil juga kemungkinan terjadi kelelahan (Lutan, dkk., 1997:50).

Adanya perbedaan tingkat kebugaran jasmani didukung oleh penelitian yang dilakukan Setiawan tahun 2012 tentang” Perbandingan Tingkat Kebugaran Jasmani Siswa Putra Usia 10-12 Tahun Yang Tinggal Di Daerah Pegunungan dengan Daerah Pesisir Pantai Di Kabupaten Probolinggo” melaporkan hasil penelitian bahwa terdapat perbedaan yang signifikan tingkat kebugaran jasmani antara siswa Putra Usia 10-12 Tahun Yang Tinggal Di Daerah Pegunungan dengan Daerah Pesisir Pantai Di Kabupaten Probolinggo. Tingkat kebugaran jasmani siswa putra usia 10, 11 dan 12 tahun yang tinggal di daerah pegunungan memiliki tingkat kebugaran jasmani lebih baik dibanding dengan siswa putra usia 10, 11 dan 12 tahun yang tinggal di daerah pesisir. 

Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti telah mengadakan studi tingkat kebugaran jasmani yang dilakukan di SDN Mojolangu 04 Lowokwaru. Dari hasil observasi dan wawancara dengan pendidik pendidikan jasmani SD Mojolangu 04 Lowokwaru tersebut mengatakan bahwa belum pernah diadakan penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan tingkat kebugaran jasmani peserta didik di SD tersebut. Untuk mengetahui tingkat kebugaran jasmani peserta didik peneliti mengadakan penelitian dengan melakukan beberapa tes. a) lari cepat 40 meter, b) angkat tubuh selama 30 detik, c) baring duduk 30 detik, d) loncat tegak, e) lari jauh 600 meter.  Hasil tes tersebut oleh peneliti bandingkan tingkat kebugaran jasmani peserta didik laki-laki kelas 4,5, dan 6. Dengan adanya tes ini diharapkan menjadi bahan acuan bagi pendidik untuk menjaga dan meningkatkan tingkat kebugaran jasmani peserta didik ke arah yang lebih baik.

Kebugaran jasmani merupakan salah satu faktor yang cukup besar dalam mempengaruhi pencapaian prestasi belajar siswa.  Jika tingkat kesegaran jasmani siswa baik maka siswa akan merasa mudah dalam melakukan segala aktifitasnya tanpa rasa lelah. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Mutohir (2007:51) bahwa “kebugaran jasmani adalah kesanggupan tubuh untuk melakukan aktivitas tanpa mengalami kelelahan yang berarti.

Menurut Rosdiani (2012:34) kebugaran jasmani adalah merupakan aspek penting dari domain psikomotorik yang bertumpu pada perkembangan kemampuan biologis organ tubuh. Khusus bagi anak usia dini fungsi kebugaran jasmani sangat penting untuk untuk dapat menyediakan tugas-tugas di sekolah dengan baik (Sujiono, 2014:7.5). kian tinggi derajat derajat kebugaran jasmani seseorang kian tinggi kemampuan kerja fisikya ( Lutan, 1997:110).

Kebugaran jasmani juga dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: (1) keteraturan berlatih, dengan intensitas kegitan yang cukup berat, (2) faktor genetik dan (3) kecukupan gizi (Safariatun, 2008:5.3). antara kesehatan dan kebugaran jasmani sangat erat kaitanya dan keduanya tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain.

Dari beberapa penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kebugaran jasmani adalah kemampuan seseorang untuk menjalankan aktivitas yang di wajibkan tanpa merasakan lelah yang berarti dan dapat segera pulih seperti pada saat sebelum melakukan aktivitas. Seseorang yang memiliki tingkat kebugaran tinggi atau kebugaran jasmani yang baik sudah tentu akan memiliki kesehatan yang baik pula sehingga bisa melakukan aktivitas sehari-hari dengan baik.

Dalam kesegaran jasmani kita perlu mengetahui komponen-komponen yang membentuk dan saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya, akan tetapi setiap komponen memiliki ciri tersendiri. Penjelasan komponen tersebut adalah sebagai berikut.

Kekuatan (power) adalah pelepasan atau aplikasi kekuatan otot maksimum dalam satuan tertentu (Harsuki, 2003:54). Sedangkan menurut Tisnowati dan Moekarto (2004:1.12) kekuatan otot merupakan kemampuan sekelompok otot dalam menghadapi hambatan sehingga dapat diusahakan pendayagunaan secara maksimal.

Sedangkan menurut Sujiono (2014:7.3). kekuatan adalah kemampuan seseorang untuk membangkitkan tegangan (tension) terhadap suatu tahanan atau resisten Kekuatan otot pada setiap individu berbeda-beda tergantung , yang dilakukan oleh individu tersebut. Kekuatan adalah kemampuan otot untuk melakukan kontraksi guna membangkitkan tegangan terhadap suatu tahanan (Lutan dkk, 1997:118). Pendapat lain dari Safariatun mengatakan kekuatan otot adalah kemampuan tubuh untuk mengerahkan daya maksimal terhadap objek luar tubuh (2008:5.4). kekuatan otot merupakan salah satu parameter fisiolaogis yang juga dipengaruhi umur dan latihan fisik. Pada keadaan normal kekuatan otot akan naik sampai umur 20 tahun, mencapai maksimal pada umur antara 20-30 tahun, kemudian menurun dan pada 65 tahun hanya tinggal 60 sampai 80 % dari kekuatan sewaktu berumur 25 tahun (Moeloek dan Tjokronegoro, 1984:22).

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kekuatan adalah kemumpuan seseorang dalam mempergunakan ototnya untuk menerima beban pada saat bekerja secara maksimal. Kekuatan juga merupakan hasil kerja otot untuk mengangkat, menjinjing, menahan, mendorong, atau menarik beban. Banyak faktor yang mempengaruhi kekuatan otot seseorang atau individu, salah satu contohnya adalah beban latihan yang diberikan, semakin tinggi beban latiha yang diberikan maka akan semakin tinggi juga kekuatan dari individu tersebut.

Daya tahan sering juga disebut endurance. Daya tahan dibedakan dalam dua macam, yaitu: Mutohir (2007:54-55) juga membedakan daya tahan menjadi dua macam yakni: (1) daya tahan umum adalah kemampuan tubuh untuk melakukan aktivitas terus-menerus dalam waktu lama (lebih dari 10 menit) dengan aerobic pre-dominant energy system, (2) daya tahan local adalah kemampuan otot skeletal untuk melakukan kontraksi atau gerakan berulang-ulang dalam dalam jangka waktu yang lama dengan beban tertentu.

Daya tahan adalah kemampuan seseorang untuk melakukan kerja dalam waktu yang relatif lama (Lutan dkk, 1997:110). Sedangkan menurut Sujiono (2014:7.3) daya tahan atau endurance adalah kemampuan tubuh menyuplai oksigen yang diperlukan untuk melakukan kegiatan. Safariatun (2008:5.5) juga berpendapat bahwa adalah kemampuan untuk mengerahkan daya terhadap objek di luar tubuh selama beberapa kali.

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa daya tahan otot adalah kemampuan sekelompok otot untuk mengatasi beban dalam suatu gerakan. Sedangkan daya tahan secara umum adalah kemampuan seseorang dalam mempergunakan segala sistem di dalam tubuhnya secara efektif dan efisien dalam waktu yang cukup lama. Apabila seseorang melakukan kegiatan latihan khusus untuk memperbaiki daya tahan tubuhnya maka akan terjadi peningkatan-peningkatan masa otot. Semakin tinggi latihan yang diberikan maka akan semakin tinggi juga daya tahan otot dari individu tersebut.

Daya ledak atau exsplosive streng, muscular power adalah kemampuan untuk melakukan aktivitas secara tiba-tiba dan cepat dengan mengerahkan seluruh kekuatan dalam jangka waktu yang singkat (Mutohir , 2007:55). Sedangkan menurut Safariatun (2008:5.8) mengatakan bahwa daya ledak otot adalah kemampuan untuk mengerahkan usaha maksimal secepat mungkin. Daya ledak otot atau muscular power, adalah kemampuan seseorang untuk melakukan kekuatan maksimum, dengan usahanya yang dikerahkan dalam waktu sependek-pendeknya (Sajoto, 1988:58).

 Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa daya ledak adalah kemampuan seseorang untuk menggunakan kekuatan maksimal dalam waktu yang singkat. Power juga merupakan kombinasi antara kekuatan dan kecepatan dan merupakan dasar dalam setiap melakukan bentuk aktivitas. Juga sering diartikan sebagai daya ledak yang mempunyai makna kemampuan untuk mengeluarkan kekuatan maksimal dalam waktu relatif singkat. Untuk mendapatkan tolakan yang kuat dan kecepatan yang tinggi seseorang atau individu harus memiliki daya ledak yang besar.

Kecepatan atau speed, adalah kemampuan untuk mengerjakan suatu aktivitas yang sama berulang-ulang serta berkesinambungan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya (Mutohir , 2007:55). Sedangkan menurut Safiatun (2008:5.8) kecepatan adalah kemampuan untuk bergerak dari suatu tempat ke tempat yang lain dalam waktu sesingkat mungkin. Kecepatan atau speed, adalah kemampuan seseorang dalam melakukan gerakan berkesinambungan, dalam bentuk yang sama dalam waktu yang sesingkat-singkatnya (Sajoto, 1988:58). Kecepatan erat hubungannya dengan kecepatan kerutan otot, kecepatan akan naik sampai umur 21 tahun dan menetap selama 2-4 tahun kemudian menurun (Moeloek dan Tjokronegoro, 1984:23).

Dari pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kecepatan adalah kemampuan melakukan gerakan  berkesinambungan dalam bentuk yang sama dengan secepat mungkin. Dalam olah raga kecepatan adalah kemampuan seseorang dalam melakukan gerakan-gerakan olah raga dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Seperti gerak lari cepat atau sprint, gerak pukulan dalam tinju, gerak mengayuh pedal dalam balap sepe Gerakan kecepatan anak dapat dilihat dalam kegiatan seperti berjalan mendaki. kecepatan gerakan dapat ditingkatkan dengan memberikan kesempatan yang cukup untuk latihan dan ruang terbuka di mana untuk berlari dan bermain (Gallahue, 1996:64).

Kelentukan atau flexibility, adalah kesanggupan tubuh atau anggota gerak tubuh dalam melakukan gerakan pada sebuah atau beberapa sendi seluas-luasnya (Mutohir , 2007:55). Sedangkan menurut Sharkey (2011:165) mengatakan bahwa kelentukan adalah jangkauan gerakan yang dapat dilakukan dengan tangan dan kaki. Fleksibilitas seseorang ditentukan oleh kemampuan gerak dari sendi-sendi. Kelentukan adalah kualitas yang memungkinkan suatu segmen bergerak semaksimal mungkin menurut kemungkinan rentang geraknya (Sujiono dkk, 2014:7.5). Safariatun juga berpendapat bahwa fleksibilitas merupakan gambaran dari luas sempitnya ruang gerak pada berbagai persendian yang ada di dalam tubuh kita (2008:5.6). Menurut Lutan dkk (1997:114) kelentukan adalah kemampuan seseorang untuk dapat melakukan gerak dengan ruang gerak seluas-luasnya dalam persendiannya.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa daya lentur adalah keefektifan seseorang dalam penyesuaian diri dengan penguluran otot dan sendi dan juga merupakan suatu gerakan yang efisien untuk mencegah terjadinya cidera pada otot maupun persendian. Kelentukan adalah kualitas fisik yang terlibat dalam banyak pola keterampilan motorik, pembinaan yang tidak memadai mungkin juga akan termasuk hal yang mungkin menghambat prestasi dalam olahraga tertentu (Singer,1975:253).

Kelincahan atau agility adalah kemampuan tubuh atau bagian tubuh untuk mengubah gerakan secara mendadak dalam kecepatan tinggi (Mutohir , 2007: 56). Sedangkan menurut Sujiono (2014:7.4)kelincahan adalah kemampuan seseorang untuk bergerak secara cepat. kelincahan erat kaitannya dengan kelentukan, menurut Lusri dkk (1997:116) kelincahan adalah kemampuan seseorang untuk dapat mengubah arah dengan cepat dan tepat pada waktu bergerak tanpa kehilangan keseimbangan.

Dapat disimpulkan bahwa kelincahan adalah kemampuan seseorang untuk merubah posisi secara cepat sesuai dengan situasi tanpa kehilangan keseimbangan. Seseorang yang mampu merubah satu posisi ke suatu posisi yang berbeda dengan kecepatan tinggi dan koordinasi gerak yang baik, berarti kelincahannya tinggi. Kemampuan ini dapat ditingkatkan pada anak-anak melalui partisipasi dalam permainan mengejar dan melarikan diri dan kegiatan menghindar tertentu, bekerja melalui labirin dan rintangan juga membantu pengembangan kelincahan (Gallahule,1996:64).

Keseimbangan atau balance adalah kemampuan tubuh untuk melakukan reaksi atas setiap perubahan posisi tubuh dimana tubuh tetap dalam keadaan stabil dan terkendali (Cholik dan Maksum , 2007:56). Sedangkan menurut Sujiono (2014:7.5) keseimbangan bisa diklasifikasikan menjadi 2 macam menjadi keseimbangan dinamik dan keseimbangan statik, yaitu: (1) keseimbangan dinamik adalah kemampuan untuk mempertahankan tubuh agar tidak jatuh pada saat sedang melakukan gerakan, (2) keseimbangan statik adalah kemampuan mempertahankan posisi tubuh tertentu untuk tidak bergoyang atau roboh

 Safariatun (2008:5.8) juga berpendapat bahwa keseimbangan adalah kemampuan untuk mempertahankan keseimbangan kaitannya dengan gravitasi. Jadi dapat disimpulkan bahwa keseimbangan adalah kemampuan seseorang untuk mempertahankan sikap tubuh yang stabil selama melakukan gerakan.

Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa keseimbangan adalah kemampuan untuk mempertahankan tubuh dalam posisi kesetimbangan maupun dalam keadaan statik atau dinamik, serta menggunakan aktivitas otot yang minimal. Keseimbangan juga bisa diartikan sebagai kemampuan relatif  untuk mengontrol pusat massa tubuh (center of mass) atau pusat gravitasi (center of gravity) terhadap bidang tumpu (base of support).

Ketepatan atau accuracy, adalah kemampuan tubuh untuk mengendalikan gerakan bebas menuju sasaran pada jarak tertentu (Mutohir, 2007:56). Sedangkan menurut Sajoto (1988:59) berpendapat bahwa ketepatan adalah kemampuan seseorang dalam mengendalikan gerak-gerak bebas terhadap suatu sasaran. Sasaran dapat berupa jarak atau mungkin suatu objek langsung yang harus dikenai.  Ketepatan adalah adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan gerakan-gerakan terhadap suatu sasaran. Sasaran ini dapat merupakan suatu jarak atau suatu objek yang langsung harus dikenai dengan salah satu bagian tubuh (Ahmadi, 2007:66)

 Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa ketepatan adalah kemampuan gerak tubuh seseorang untuk mengendalikan suatu gerak terhadap sasaran. Ketepatan atau biasa disebut dengan accuracy  adalah sebuah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk mengubah gerakan secepat-cepatnya sesuai dengan target atau mengarahkan gerakan ke suatu sasaran sesuai dengan tujuannya. Besar dan kecilnya sasaran atau luas dan sempitnya sasaran, Ketajaman indera dan pengaturan syaraf, Jauh dan dekatnya bidang sasaran, Penguasaan teknik yang benar akan mempunyai sumbangan baik terhadap ketepatan mengarahkan gerakan, Cepat atau lambatnya gerakan yang dilakukan, Feeling dari anak didik atau ketelitian, Kuat atau lemahnya suatu gerakan.

Reaksi atau reaction, adalah kemampuan tubuh atau anggota tubuh untuk bereaksi secepat-cepatnya ketika ada rangsangan yang diterima oleh reseptor somatic, kinesthetic, atau vestibular (Mutohir , 2007:56). Sedangkan menurut Sajoto (1988:59) berpendapat bahwa reaksi adalah kemampuan seseorang segera bertindak secepat-cepatnya dalam menanggapi rangsangan-rangsangan yang datang lewat indra, syaraf atau feeling lainnya. Reaksi menurut Ahmadi (2007:66) adalah kemampuan seseorang untuk bertindak dengan segera dalam menghadapi rangsangan yang di timbulkan lewat indera.

Dari pendapat di atas yang dimaksud reaksi adalah kemampuan seseorang untuk segera bertindak secepatnya dalam menanggapi rangsangan yang ditimbulkan lewat indra. Dalam olahraga reaksi adalah gerakan yang dilakukan tubuh untuk menjawab secepat mungkin sesaat setelah mendapat suatu respons atau peristiwa dalam satuan waktu. Faktor yang mempengaruhi reaksi antara lain kesiagaan atau kesiapan untuk melakukan gerakan, usia, kebiasaan dan gerak itu sendiri.

Koordinasi atau coordinasion adalah kemampuan tubuh untuk mengintegrasikan berbagai gerakan yang berbeda menjadi sebuah gerakan tunggal yang harmonis dan efektif (Cholik dan Maksum , 2007: 56). Sedangkan menurut Tisnowati dan Moekarto ( 2004:1.13) koordinasi gerak otot merupakan kemampuan manusia dalam melakukan gerakan yang terkendali dengan cepat dan tepat sesuai dengan apa yang dipikirkaan. Sedangkan menurut Sujiono (2014:7.5) koordinasi gerak merupakan kemampuan yang mencakup dua atau lebih kemampuan perceptual pola-pola gerak. Safariatun (2008:5.7) juga berpendapat bahwa koordinasi merupakan kemampuan untuk memadukan pelaksanaan tugas gerak yang terpisah-pisah yang didukung oleh beberapa sumber pengindraan sehingga menjadi gerak yang efisien.

Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa koordinasi adalah kemampuan seseorang dalam menggabungkan gerakan yang berbeda kedalam satu bentuk gerakan. Bisa juga diartikan kemampuan seseorang dalam mengintegrasikan gerakan yang berbeda kedalam suatu pola gerakan tunggal secara efektif. Kordinasi berbagai bagian tubuh menunjukkan kemampuan untuk melakukan pola gerakan terampil. Keterampilan itu sendiri mungkin melibatkan koordinasi kaki mata ( Singer, 1975:232).

Tes kebugaran jasmani Indonesia merupakan suatu rangkaian jenis tes yang digunakan untuk mengetahui tingkat kesegaran jasmani seseorang, tes ini dibedakan menjadi beberapa golongan yakni: (1) Tes Kesegaran Jasmani Indonesia (TKJI) untuk tingkat Sekolah Dasar (SD) atau sederajat usia 6-12 tahun, (2) Tes Kesegaran Jasmani Indonesia (TKJI) untuk tingkat SMP atau sederajat usia 13-15 tahun dan, (3) Tes Kesegaran Jasmani Indonesia (TKJI) untuk tingkat SMA atau sederajat usia 16-19 tahun, (4) Tes Kebugaran jasmani (A.C.S.P.F.T).

 A.C.S.P.F.T atau Asia Commitee on the Standardization of Physical Fitness Test adalah organisasi internasional yang menyusun dan membakukan berbagai bentuk tes kebugaran jasmani. Organisai A.C.S.P.F.T menyusun tes yang terdiri dari 8 jenis item tes. Rangkaian tes tersebut diperuntukkan bagi putra dan putrid yang berumur 6 sampai 32 tahun. Rangkain tes tersebut terdiri dari lari cepat 50 meter, lompat jauh tanpa awalan, lari jauh 600 meter untuk putra dan putri yang berumur kurang dari 12 tahun, lari jauh 800 meter untuk putri yang berumur 12 tahun ke atas, lari jauh 100 meter untuk putra yang berumur 12 tahun ke atas, angkat badan, kekuatan peras (grip strength), lari hilir mudik (shutltle run), baring duduk (shit-up), lentuk togok ke muka (forward flexion of trunk).

 Berdasarkan tolak ukur tersebut , maka tolak ukur ini hanya digunakan untuk mengetahui tingkat kesegaran jasmani anak sesuai dengan golongan usia yang telah ditentukan dan tidak berlaku bagi kelompok usia yang tidak sesuai dengan ketentuan tersebut.

Sedangkan rangkaian Tes Kesegaran Jasmani Indonesia untuk Sekolah Dasar ini dibedakan, untuk Sekolah Dasar usia 6-9 tahun dan untuk Sekolah Dasar usia 10-12 tahun. Jenis tes yang digunakan untuk Sekolah Dasar usia 6-9 tahun adalah: (1) Lari cepat (sprint) 30 (tiga puluh) meter, (2) angkat tubuh (pull up) 30 (tiga puluh ) detik, (3) baring duduk (sit up) 30 (tiga puluh ) detik, (4) loncat tegak (vertical jump), (5) lari 600 (enam ratus) meter (lari jauh). Jenis tes untuk tingkat Sekolah Dasar usia 10-12 tahun terdiri dari: (1) Lari cepat (sprint) 40 (empat puluh) meter, (2) angkat tubuh (pull up) 30 (tiga puluh ) detik, (3) baring duduk (sit up) 30 (tiga puluh ) detik, (4) loncat tegak  (vertical jump), (5) lari 600 (enam ratus) meter (lari jauh).

            Pemahaman terhadap prinsip-prinsip perkembangan dapat membantu seseorang untuk menyusun perencanaan kegiatan, memberikan stimulasi dan pengayaan pengalaman yang sesuai sesuai bagi anak-anak. Prinsip-prinsip ini akan membantu menjelaskan tipikal perkembangan sebagai suatu proses yang berurutan dan dapat diramalkan atau diprediksi.

            Prinsip ini menjelaskan bagaimana arah perkembangan dan pertumbuan.

pertumbuhan fisik dimulai dari kepala (atas) ke arah kaki (bawah). Bagian-bagian pada kepala tumbuh lebih dahulu daripada bagian-bagian lain, anak-anak akan terlebih dahulu mampu mengontrol bagian kepalanya, kemudian lengan, dan terakhir tungkai. Kemampuan mengkoordinasi lengan akan diikuti dengan kemampuan mengkoordinasi tungkai (Ambarukmini, 2009:34). Hal ini ditandai dengan perubahan ukuran kepala dari seorang anak akan lebih besar dan berkembang sesuai dengan usia dan baru diikuti perkembangan oleh organ lain.

            Sedangkan menurut Desyandri (online, tanpa halaman) Prinsip arah perkembangan mengandung arti bahwa perkembangan tidak berlangsung acak, melainkan dalam pola yang teratur. Kenyataannya adalah perkembangan bergerak maju secara sistematis dari kepala hingga ke ujung kaki,contohnya seorang bayi yang baru lahir relatif lebih matang susunan saraf motoriknya di bagian kepala daripada yang ada di bagiannya muncul lebih dulu dibandingkan koordinasi kaki.

Perkembangan ini cendrung dalam teratur mulai dari arah kepala ke kaki, hal ini disebut sebagai tren cefalokaudal (cephalocaudal trend.

            Prinsip ini menjelaskan arah perkembangan. Menurut prinsip ini, sum-sum tulang belakang (spiral cord) berkembang terlebih dahulu sebelum bagian luar. Atau dengan kata lain, perkembangan dimulai dari bagian tengah tubuh kearah luar. Lengan akan berkembang terlebih dahulu sebelum tangan, dan tangan atau kaki akan berkembang sebelum jari-jemari (Ambarukmini, 2009:34). Jari-jemari baik tangan maupun di kaki, yang digunakan untuk gerak motorik halus merupakan bagian yang terakhir berkembang dalam proses perkembangan fisik.

            Beberapa tahap-tahap perkembangan akan menghasilkan suatu kematangan baik itu kematangan jasmani maupun kematangan mental. kematangan merujuk pada urut-urutan karakteristik pertumbuhan dan perkembangan biologis. Menurut Ambarukmini (2009:34) kematangan yaitu:

Perubahan biolagis berlangsung secara berurutan dan akan memberi kemampuan baru bagi anak-anak. Perubahan pada otak dan sistim saraf lebih banyak tergantung pada proses pematangan. Perubahan dibagian ini akan menyebabkan meningkatnya kemampuan anak-anak dalam berfikir (kognitif) dan keterampilan motorik (fisik). Di samping itu anak-anak harus terlebih dahulu mencapai kematangan pada titik tertentu sebelum ia mampu berkembang lebih lanjut untuk menguasai keterampilan yang baru. Lingkungan dan pembelajaran yang dialami oleh anak-anak memiliki pengaruh besar terhadap optimasi perkembangan anak-anak. Rangsangan lingkungan dan pengalaman yang beragam akan membuat anak mampu mengembangkan kemampuan secara maksimal.

Kematangan itu sendiri berfungsi sebagai pemberi atau bahan dasar untuk belajar. Adapun kaitanya kematangan seseorang dengan proses perkembangan mental psikologis untuk fisik adalah sebagai keuntungan untuk perkembangan.

            Kognitif adalah proses yang terjadi secara internal di dalam pusat susunan syaraf pada waktu manusia sedang berpikir. Kemampuan kognitif ini berkembang secara bertahap, sejalan dengan perkembangan fisik dan syaraf-syaraf yang berada di pusat susunan syaraf. Anak-anak menggunakan kognisi dan keterampilan bicaranya untuk memberikan alasan dan memecahkan masalah. Bila kemampuan kognisi pada anak makin berkembang, mereka akan mampu memahami hubungan yang lebih komplek dari 2 objek atau benda (Ambarukmini 2009:35). Tahap awal perkembangan intelektual anak terjadi dari lahir sampai berumur 2 tahun. Pada masa itu anak mengenal dunianya melalui sensasi yang didapat dari inderanya dan membentuk persepsi mereka akan segala hal yang berada di luar dirinya (Yayang, online, tanpa halaman).

 Perekaman sensasi  nonverbal (simbolik) akan berkaitan dengan memori asosiatif yang nantinya akan memunculkan suatu logika. Bahasa simbolik itu merupakan bahasa yang personal dan setiap bayi pertama kali berkomunikasi dengan orang lain menggunakan bahasa simbolik. Sehingga sering terjadi hanya ibu yang mengerti apa yang diinginkan oleh anaknya dengan melihat/mencermati bahasa simbol yang dikeluarkan oleh anak.

            Pertumbuhan dan perkembangan merupakan dua proses yang berjalan sejajar dan berdampingan. Jadi proses pertumbuhan dan perkembangan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Setiap makhluk hidup mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan. Ambarukmini (2009:35)  juga berpendapat sebagai berikut:

Seiring dengan perkembangan, anak-anak akan semakin menguasai keterampilan-keterampilan yang sudah mereka pelajari dan menambah keterampilan baru. Selanjutnya keterampilan ini menjadi dasar bagi penguasaan keterampilan baru yang lain. Pola ini berlaku pada sebagian besar anak. Satu tahap perkembangan akan menjadi dasar bagi perkembangan selanjutnya, demikian seterusnya.

Perkembangan tidaklah terbatas pada pengertian pertumbuhan yang semakin membesar, melainkan di dalamnya juga terkandung serangkaian perubahan yang berlangsung secara terus menerus dan bersifat tetap dari fungsi-fungsi jasmaniah dan rohaniah yang dimiliki individu menuju ketahap kematangan melalui pertumbuhan dan perkembangan.

            Pada setiap aspek terjadi proses perkembangan yang dimulai dari hal-hal yang umum, kemudian secara sedikit demi sedikit meningkat ke hal-hal yang khusus. Ambarukmini (2009:35)  juga berpendapat sebagai berikut: Dalam perkembangan motorik, bayi akan terlebih dahulu meraih sesuatu dengan tangannya sebelum mampu melakukannya dengan hanya menggunakan jemari tangannya, atau hanya menggunakan jari telunjuk dan ibu jarinya. Awal gerak motorik bayi sangat umum, tidak terarah, dan reflektif. Pertumbuhan terjadi dari gerak otot besar ke gerak otot yang lebih kecil/halus.

Perkembangan motorik adalah proses tumbuh kembang kemampuan gerak seorang anak. Pada dasarnya, perkembangan ini berkembang sejalan dengan kematangan saraf dan otot anak. Sehingga, setiap gerakan sesederhana apapun, adalah merupakan hasil pola interaksi yang kompleks dari berbagai bagian dan system dalam tubuh yang dikontrol oleh otak.

Setiap anak berbeda dan kecepatan pertumbuhannya juga berbeda-beda. Meskipun pada umunnya pola dan tahapan perkembangan dan pertumbuhan sama, tetapi kecepatan mencapai tingkat perkembangan tertentu bisa berbeda-beda (Ambarukmini,2009:35). Setiap individu adalah unik. Artinya setiap individu memiliki perbedaan antara yang satu dengan yang lain. Perbedaan tersebut bermacam-macam, mulai dari perbedaan fisik, pola berpikir dan cara merespon atau mempelajari hal-hal baru. Dalam hal belajar, masing-masing individu memiliki kelebihan dan kekurangan dalam menyerap pelajaran yang diberikan. Oleh karena itu, dalam dunia pendidikan dikenal berbagai metode untuk dapat memenuhi tuntutan perbedaan individu tersebut. Di negara-negara maju sistem pendidikan bahkan dibuat sedemikian rupa sehingga individu dapat dengan bebas memilih pola pendidikan yang sesuai dengan karakteristik dirinya.

Perbedaan karakteristik pertumbuhan dan perkembangan fisik yang dialami oleh anak akan memiliki implikasi terhadap program Pendidikan Jasmani yang kelak direncanakan, dilakukan dan dikembangkan oleh Pendidikan jasmani, diantaranya adalah sebagai berikut: (1) Sesuai dengan karakteristik pertumbuhan dan perkembanganya, maka tiap fase usia akan menuntut perlakuan program Pendidikan Jasmani yang berbeda. Pada fase-fase awal model keterampilan gerak yang dikembangkan akan berorientasi pada pengenalan bentuk-bentuk gerakan. Lambat laun, dikembangkan pada bentu-bentuk yang matang dan spesifik, (2) sehubungan dengan hal tersebut, di samping menuntut perlakuan program yang berbeda, perbedaan tingkat keterampilan gerak yang dimiliki oleh anak juga akan menuntut perbedaan perlakuan proses dan metodologi pembelajarannya. Pada usia awal, pola komando cenderung dapat digunakan. Namun demikian, berangsur-angsur anak harus dikenalkan dengan perlakuan proses dan metodologi pembelajaran penemuan melalui program yang terarah dan terprogram, (3) sehubungan dengan belum terdapatnya perbedaan anak laki-laki dan perempuan, kemungkinan program keduanya dilakukan secara bersama-sama. Namun pada usia tertentu, dimana perbedaan pertumbuhan dan perkembangan telah tampak jelas, maka program di antara keduanya harus dirancang secara berbeda, (4) sehubungan dengan belum sempurnanya pertumbuhan dan perkembangan organ tubuh pada anak, program Pendidikan Jasmani perlu dilakukandalam satuan waktu yang relatif singkat tiap kali perlakuannya. Perhatian terhadap waktu istirhat di antara perlakuan program pembelajaran sama pentingya terhadap perlakuan itu sendiri, (5) kegiatan pembelajaran perlu dilakukan dalam suasana bermain yang penuh keceriaan dan kegembiraan. Belajar sambil bermain harus memiliki tekanan terhadap pengembangan fisik dan keterampilan gerak yang sesuai dengan usia, pertumbuhan dan perkembangan anak.

Berkaitan dengan latar belakang masalah yang dikemukakan, maka peneliti tertarik mengkaji melalui penelitian tentang “Studi Komparatif Tingkat Kebugaran Jasmani antara Peserta Didik Laki-Laki Kelas 4, 5, Dan 6 Di SD N Mojolangu 04 Kecamatan Lowokwaru Kota Malang.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) perbandingan tingkat kebugaran jasmani peserta didik laki-laki kelas 4 dan 5 (2) perbandingan tingkat kebugaran jasmani peserta didik laki-laki kelas 4 dan 6 (3) perbandingan tingkat kebugaran jasmani peserta didik laki-laki kelas 5 dan 6 di SDN Mojolangu 04 Kota Malang.

 

METODE

Penelitian ini menggunakan rancangan survei. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan tingkat kebugaran jasmani siswa laki-laki kelas 4, 5 dan 6 di SDN Mojolangu 04 Kecamatan Lowokwaru Kota Malang.

Merujuk pada tujuan penelitian maka penelitian ini termasuk jenis penelitian causal comparative. Variabel yang diteliti meliputi variabel tergantung yaitu berupa tingkat kebugaran jasmani antara siswa kelas 4, 5 dan 6 di SDN Mojolangu 04 Kecamatan Lowokwaru Kota Malang.

Populasi penelitian ini adalah siswa laki-laki kelas 4, 5 dan 6 di SDN Mojolangu 04 Kecamatan Lowokwaru Kota Malang yang terdiri atas 50 orang. Sampel dalam penelitian ini adalah 1 sekolah yang terdiri atas 3 kelas di SDN Mojolangu 04 Kecamatan Lowokwaru Kota Malang menggunakan teknik purporsive sistimatic proporsional random sampling dengan porsi 90% dengan jumlah sampel sebanyak 46 peserta didik.

Instrumen penelitian menggunakan instrumen tes berupa tes Kebugaran Jasmani Indonesia (Pussegjas, 1986:3). Tes ini merupakan rangkaian tes, oleh karena itu semua butir tes harus dilaksanakan dalam suatu satuan waktu. Tes kebugaran  jasmani yang digunakan khusus untuk sekolah dasar usia 6-12 tahun. Sebelum melaksanakan tes pengukuran semua responden diberi penjelasan tentang maksud, tujuan dan kegunaan tes kebugaran jasmani yang akan dilakukan serta cara melakukan masing–masing butir tes tersebut. Dalam pengukuran kebugaran jasmani dilakukan 5 tes yaitu (a) lari sprint 40 meter, (b) angkat tubuh 30 detik, (c) baring duduk 30 detik, (d) loncat tegak, dan e) lari jauh 600 meter.

Langkah-langkah yang digunakan dalam penelitian (1) tahap persiapan (studi kepustakaan sesuai dengan masalah yang diteliti, mengurus surat ijin melakukan penelitian, melakukan observasi awal, menyiapkan intrumen penelitan, menyiapkan subjek penelitian). (2) Tahap Pelaksanaan(melakukan pengundian (pengacakan) terhadap subjek penelitian, menyiapkan lapangan untuk melakukan tes, menyiapkan alat–alat yang dibutuhkan dalam tes, menyiapkan tenaga bantu lapangan, menyampaikan intruksi–intruksi terhadap tenaga lapangan yang berkaitan dengan instrument tes, melaksanakan tes kebugaran jasmani. (3) tahap pengelolaan data Penelitian(memberi kode yaitu nama masing–masing siswa diganti kode lain, tabulasi data, mengolah analisis data sesuai dengan teknik yang digunakan, interpretasi hasil analisis data.

Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan statistika inferensial. Oleh karena itu, dengan pertimbangan tujuan penelitian dan dengan pertimbangan jenis data yang diperoleh berupa data rasio maka data dianalisis dengan menggunakan statistika inferensial berupa Uji-t. Prosedur analisis Uji-t tersebut membutuhkan persyaratan diantaranya uji normalitas dan uji homogenitas. Uji normalitas yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik liliefors sedangkan uji homogenitas digunakan untuk mengetahui variansi populasi. Teknik analisis yang digunakan berupa uji t. Semua prosedur analisis tersebut dilakukan secara manual menggunakan kalkuklator Fx saintific 3600PV. Untuk pengujian hipotesis menggunakan alfa 0,05.

 

HASIL

Pada bagian hasil, akan penulis paparan hasil dari penelitian yang dilakukan, sebagai berikut:

Sehubungan dengan bentuk analisis data yang digunakan berupa Uji t maka, memerlukan uji persyaratan yang harus dipenuhi. Berikut ini di sajikan hasil analisis uji persyaratan yaitu uji normalitas dan uji homogenitas. Hasil uji disajikan sebagai berikut.

Berdasarkan hasil uji normalitas yang dilakukan kepada kelompok kelas 4 diperoleh Lhitung sebesar 0,0901 dan LTabel sebesar 0,227, pada kelompok kelas 5 diperoleh Lhitung sebesar 0,1048 dan Ltabel sebesar 0,213,pada kelompok kelas 6 diperoleh Lhitung sebesar 0,1065 dan Ltabel sebesar 0,213. Oleh karena hasil analisi data L hit < L tab, maka data dari kelompok kelas 4, 5, dan 6 berdistribusi normal. Dengan demikian analisis uji  korelasi dapat dilanjutkan.

Hasil analisis data uji homogenitas pada sampel berjumlah 46 orang telah ditemukan f hitung lebih kecil dari Ftabel, dimana Fhitung = 0,513 Ftabel (α 0,05) = 3,20 berarti varian dari variabel yang diteliti menunjukkan homogen. Dengan demikian analisis uji korelasi dapat dilanjutkan.

Kesimpulan berdasarkan uji hipotesis yang menggunakan analisis uji t (mean dari dua sampel independent) pada kelas 4 dan kelas 5 diperoleh thitung sebesar 4,43339 > ttabel dengan taraf signifikansi a = 0,05 = 2,055529 sehingga hipotesis diterima, artinya ada perbedaan tingkat kebugaran jasmani peserta didik laki-laki antara kelas 4 dan kelas 5 di SDN Mojolangu 04 Kota Malang.

Pada kelas 4 dan kelas 5 diperoleh thitung sebesar 4,43339 > ttabel dengan taraf signifikansi a = 0,05 = 2,055529 sehingga hipotesis diterima, artinya ada perbedaan tingkat kebugaran jasmani peserta didik laki-laki antara kelas 4 dan kelas 5 di SDN Mojolangu 04 Kota Malang

Pada kelas 5 dan kelas 6 diperoleh thitung sebesar 3,65146 > ttabel dengan taraf signifikansi a = 0,05 = 2.048407 sehingga hipotesis diterima, artinya ada perbedaan tingkat kebugaran jasmani peserta didik laki-laki antara kelas 5 dan kelas 6 di SDN Mojolangu 04 Kota Malang.

 

PEMBAHASAN

Penelitian tentang kebugaran jasmani yang dilakukan di SDN 04 Mojolangu 04 telah diperoleh sejumlah data dari kelompok kelas 4 yang berjumlah 14 peserta didik, data kelompok kelas 5 yang berjumlah 16 peserta didik  dan kelompok kelas 6  yang berjumlah 16 peserta didik telah diperoleh data dari hasil tes Kebugaran jasmani. Selanjutnya di analisis dengan proses analisis data menggunakan uji prasyarat normalitas dan homogenitas. Hasil analisis diperoleh bahwa data masing-masing kelompok telah memenuhi uji prasyarat uji normalitas dan homogenitas. Selanjutnya data masing-masing kelompok dianalisis menggunakan uji t.

Hasil analisis uji  t hitung perbedaan tingkat Kebugaran Jasmani antara peserta didik  kelas 4 dan 5 ditemukan bahwa t hitung  4,433  dan t tabel (α = 0,005) sebesar 2,055 berarti t hitung lebih besar dari t tabel, sehingga Ho ditolak dan Ha diterima yang menyatakan bahwa ada perbedaan antara tingkat kesegaran jasmani kelas 4 dan 5 di SDN Mojolangu 04 kota Malang.

Hasil analisis uji  t hitung Kebugaran Jasmani antara peserta didik kelas 4 dan 6 ditemukan bahwa t hitung  8,758 dan t tabel (α = 0,005) sebesar 2, 055 berarti t hitung lebih besar dari t tabel, sehingga Ho ditolak dan Ha diterima yang menyatakan bahwa ada perbedaan antara tingkat kesegaran jasmani kelas 4 dan 5 di SDN Mojolangu 04 Kota Malang.

Hasil analisis uji  t hitung Kebugaran Jasmani antara peserta didik kelas 5 dan 6 ditemukan bahwa t hitung 3,651 dan t tabel (α = 0,005) sebesar 2, 048 berarti t hitung lebih besar dari t tabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima yang menyatakan bahwa ada perbedaan antara tingkat kesegaran jasmani kelas 4 dan 5 di SDN Mojolangu 04 Kota Malang.

Secara keseluruhan tingkat Kebugaran Jasmani antara peserta didik kelas 4, 5, dan 6 terdapat perbedaan yang signifikaan antara kelas 4 dan 5, kelas 4 dan 6 maupun kelas 5 dan kelas 6 SDN Mojolangu 04 Kota Malang ditinjau dari hasil rata-rata t hitung kelas 4   = 139.8462, kelas 5  = 139.8462, dan kelas 6 = 176.

Adanya perbedaan pada kelompok kelas 6  tersebut diakibatkan karena pengaruh usia biologis dan tingkat keragaman motorik peserta didik sehingga berakibat pada perkembagan fisik peserta didik meningkat sejalan dengan pertambahan usia. Saat anak bertambah besar seiring dengan bertambahnya usia, kekuatan otot juga akan meningkat (Ambarukmini, 2009: 26). Perkembangan aspek fisik memang merupakan salah satu bagian dari sasaran pendidikan jasmani, sehingga perkembangan fisik memberikan pengaruh terhadap tingkat kebugaran jasmani. Kebugaran jasmani  menyangkut perkembangan fungsi organ tubuh, terkait dengan sistem peredaran darah dan pernafasan (Subroto, 2008: 1.22). Pembinaan terhadap kebugaran jasmani perlu diupayakan, karena membina kebugaran jasmani mempunyai arti melatih komponen-komponen kebugaran jasmani meliputi: daya tahan kardiorespiratori, daya tahan otot dan kekuatan otot, komposisi tubuh dan berat badan, fleksibilitas, dan relaksasi neoromuskular (Thamrin, 2006:61)

Keteraturan pembelajaran pendidikan jasmani yang di berikan di sekolah menjadi syarat bagi proses pembelajaran yang baik, sehingga berdampak pada tingkat kebugaran jasmani yaitu adanya kenaikan tingkat kebugaran jasmani karena aktivitas fisik yang dilakukan. Sekolah dapat memainkan peran penting dengan membantu untuk mengidentifikasi anak-anak dengan kebugaran fisik yang rendah, dan dengan mempromosikan perilaku kesehatan yang positif seperti mendorong anak untuk aktif, dengan penekanan khusus pada intensitas aktivitas (Ortega, 2008:1-11). Kita tidak dapat memacu perkembangan dan pertumbuhan anak sebagaimana diharapkan bila pendidikan jasmani tidak dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan teratur (Subroto, 2008: 1.21). Pembelajaran pendidikan jasmani yang diberikan di tingkat Sekolah Dasar terbagi ke dalam 6 kelompok, yaitu kelompok aktivitas gerak dan keterampilan, aktivitas permainan dan olahraga, aktivitas pengembangan, aktivitas uji diri, aktivitas ritmik, aktivitas di air atau aquatic dan aktivitas luar kelas. Aktivitas pengembangan berisi tentang kegiatan yang berfungsi untuk membentuk postur tubuh yang ideal, dan pengembangan komponen kebugaran jasmani seperti kekuatan, daya tahan, keseimbangan, dan kelenturan tubuh (Subroto, 2008:1.27).

Pembelajaran pendidikan jasmani memberikan kebebasan pada anak untuk mengeksplorasi potensi yang dimiliki yang melekat pada masing-masing individu. Jika anak dengan aktivitas fisik mampu mengekplorasi potensi yang dimiliki, dimungkinkan tingkat kebugaran jasmani dari anak tersebut akan meningkat. Hal ini yang terjadi pada peserta didik kelas 6 di SDN Mojolangu 04, karena peserta didik kelas 6 sekolah dasar memiliki kecenderugan mengeksplorasi potensi melalui barbagai aktivitas fisik seperti bermain ketika pendidikan jasmani.

Bermain sebagai aktifitas fisik memberikan efek pada tingkat kebugaran jasmani yaitu adanya peningkatan tingkat kebugaran jasmani. Peserta didik haus akan gerak, dengan bermain mereka menjadi terampil dan lincah. Pada usia 9-12 tahun, banyak bentuk-bentuk keterampilan dasar yang sudah dapat dikuasai dengan baik oleh anak-anak dan akan terus membaik. Mereka juga mulai dapat melakukan gerak-gerak dasar dalam berbagai variasi dan situasi yang lebih komplek, atau dalam permainan olahraga kecabangan (Ambarukmini, 2009: 33). Sedangkan menurut Sumantri (2012:2),  usia 6 sampai 12 tahun anak banyak mengalami perubahan baik fisik maupun mental hasil perpaduan faktor internal maupun pengaruh dari luar yaitu lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, dan yang tidak kurang pentingya adalah pergaulan teman sebaya.

Adanya perbedaan tingkat kebugaran jasmani didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Nasihudin tahun tahun 2012 tentang “Studi Komparatif Tingkat Kesegaran Jasmani Siswa Putra Usia 10 -12 Tahun Pada SD Full Day dan SD Non Full Day di Kabupaten Probolinggo” , hasil penelitian di laporkan terdapat perbedaan tingkat kesegaran jasmani siswa putra usia 10-12 tahun  pada Sekolah Dasar Full Day dan Sekolah Dasar Non Full Day.

Berbagai faktor yang dapat mempengaruhi perbedaan tingkat kesegaran jasmani dalam penelitian ini adalah dimungkinkan adanya kemauan dari siswa itu sendiri untuk berperan atau ikut serta dalam berbagai aktivitas olahraga yang ada di luar sekolah sehingga dalam pelaksanaan tes kesegaran jasmani terdapat perbedaan antara siswa yang satu dengan yang lain. Faktor yang juga dapat berpengaruh dalam penelitian ini adalah faktor istirahat/waktu luang khususnya pada Sekolah Dasar Full Day, berdasarkan keterangan dari pihak sekolah bahwa pada SD Full day proses belajar mengajarnya dimulai pada pukul 07.00 hingga pukul 15.30, sehingga waktu yang diberikan untuk istirahat atau menggunakan waktu luang di rumah cenderung lebih sedikit di bandingkan dengan sekolah Non Full Day. Kesimpulan hasil analisisis dilaporkan bahwa rata-rata tingkat kesegaran jasmani siswa putra usia 10-12 tahun pada Sekolah Dasar Full Day lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata tingkat kesegaran jasmani siswa putra usia 10-12 tahun pada Sekolah Dasar Non Full Day.

Penelitian yang dilakukan  Bayu tahun 2006 tentang ”Perbedaan Tingkat Kesegaran Jasmani Antara Siswa Putra Kelas VI SD Bremi 1 Kecamatan Krucil di Dataran Tinggi dan SD Kedung Dalem II Kacamatan Dringu di Dataran Rendah Kabupaten Probolinggo”, melaporkan hasil penelitian bahwa terdapat perbedaan yang signifikan tingkat kesegaran jasmani antara siswa kelas VI putra SD bremi 1 pada dataran tinggi dan siswa putra kelas VI SD Kedung Dalem II pada dataran rendah.

Dalam keadaan normal paru-paru pada orang yang berada di daerah dataran tingi mengalami kesulitan dalam penyuplaian oksigen. Oleh karena itu terjadi peningkatan jumlah sel darah merah dimana hemoglobin bekerja mengikat oksigen lebih banyak untuk pemenuhan energi. Dengan latihan yang menggunakan intensitas yang sama pada daerah dataran tinggi dan dataran rendah, maka orang dataran tinggi memiliki efisiensi metabolisme lebih 20% dalam pemanfaatan oksigen. Hal ini juga berlaku sama saat beraktvitas. Maka pada anak di dataran tinggi memiliki efisiensi penggunaan energi lebih baik dari pada anak yang berada di dataran rendah. Berarti dapat dikemukakan bahwa lingkungan mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap perkembangan dan penampilan tubuh. Selain itu juga tubuh dituntut untuk dapat beradaptasi dengan keadaan lingkungan sekitar.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa perbedaan kemampuan kardiovaskuler pada anak yang berada di dataran tnggi dan anak yang berada di dataran rendah tersebut telah didukung dengan teori yang terkait. Berdasarkan hasil analisis data dan setelah melakukan pengujian hipotesis, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa ada perbedaan yang signifikan tingkat Kebugaran Jasmani antara Siswa kelas VI putra SD Bremi I pada dataran tinggi  dan siswa VI SD Kedungdalem II Pada dataran rendah.

Dengan hasil analisis yang sudah dilakukan dan didukung oleh penelitian terdahulu seperti yang diungkapkan diatas, maka kemungkinan besar anak kelas 6 Sekolah Dasar miliki kemampuan motorik yang lebih baik dari pada anak yang berada di kelas 5 maupun kelas 4 Sekolah Dasar. Hal tersebut dikarenakan lingkungan yang dilalui anak dalam keseharian dan pola perkembangan anak yang berbeda beda menurut usia masing-masing individu. Hal ini juga didukung oleh pernyataan dari guru olahraga di SDN Mojolangu 04 bahwa peserta didik kelas 6 lebih aktif mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang diberikan oleh sekolah daripada kelas 4 dan kelas 5.

Dalam penelitian tentang ekstrakurikuler sekolah berbasis olahraga sebagai sarana untuk memotivasi partisipasi olahraga di usia muda tahun 2014 oleh Aelterman dan Cardon,  kesimpulan hasil penelitian dilaporkan bahwa peserta ekstrakurikuler sekolah berbasis olahraga secara signifikan lebih aktif secara fisik dibandingkan anak-anak yang  tidak berpartisipasi dalam ekstrakurikuler berbasis olahraga. Berdasarkan kesimpulan diatas bahwa ekstrakurikuler yang diberikan di sekolah juga berperan terhadap tingkat kebugaran peserta didik yang aktif dan ikut berpartisipasi dalam kegiatan ekstrakulikuler berbasis olahraga  yang diberikan sekolah.

Tiap kegiatan fisik akan menimbulkan perubahan fisiologis sesuai dengan beban yang diberikan pada tubuh, terutama perubahan pada sistem kardiovaskuler-respirasi (Moeloek dan Tjokronegoro, 1984:18). Untuk mencapai manfaat kesehatan yang sesungguhnya, aktivitas fisik harus cukup memenuhi tingkatan minimal, kegiatan dengan intensitas tinggi dapat memberikan manfaat yang lebih besar (Janssen, 2010:40). Dengan demikian terdapat perbedaan yang signifikan tingkat kebegaran jasmani antara kelas 4, 5 dan 6 di SDN Mojolangu 04 Kota Malang.

 

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan dengan menggunakan uji t, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa ada perbedaan yang signifikan tingkat kebugaran jasmani: (1) Peserta didik laki-laki kelas kelas 4 dan 5 di SDN Mojolangu 04 Kota Malang, (2) peserta didik laki-laki kelas kelas 4 dan 6 di SDN Mojolangu 04 Kota Malang, (3) peserta didik laki-laki kelas kelas 5 dan 6 di SDN Mojolangu 04 Kota Malang.

Kelompok kelas 6 mempunyai tingkat kebugaran yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelas 4 dan kelas 5 di SDN Mojolangu 04 Kota Malang. Faktor-faktor yang menyebabkan perbedaan yang signifikan antara kelompok kelas 6 dengan kelompok kelas 4 dan 5 antara lain adalah perbedaan usia biologis dari kelompok kelas 6 lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kelas 4 dan kelompok kelas 5. Kelompok kelas 6 lebih antusias dalam mengikuti ekstrakurikuler yang diberikan terutama yang diberikan oleh sekolah. Semakin tinggi aktivitas fisik yang dilakukan oleh peserta didik maka akan semakin tinggi juga tingkat kebugaran jasmani dari peserta didik tersebut.

 

Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan sesuai dengan masalah dan judul penelitian, maka saran yang dapat peneliti berikan adalah (1) melakukan penelitian lebih lanjut dengan topik yang sama atau dengan modifikasi, atau dengan sampel yang lebih besar. (2) status kebugaran jasmani peserta didik sangat perlu diperhatikan dan ditingkatkan terutama pada sekolah dasar. Dimana peran guru pendidikan jasmani sangat berperan dalam pembentukan status kebugaran jasmani melalui pembelajaran yang dilakukan. (3) diharapkan bagi lembaga sekolah dasar mampu dan dapat memberikan informasi dan meningkatkan program  yang menunjang kebugaran jasmani peserta didik. (4) untuk memantapkan hasil yang diperoleh dalam melakukan penelitian sejenis, disarankan untuk melakukan penekanan/pengontrolan yang lebih teliti terhadap aktivitas fisik, pola makan. (5) penelitian ini masih banyak menyimpan kekurangan, diharapkan penelitian selanjunya lebih mengembangkan variabel yang diukur, sampel penelitian, prosedur penelitian dan instrumen yang digunakan.

 

DAFTAR RUJUKAN

Aelterman, Natalie., Cardon, Greet. 2014. Ekstracurricular School-Based As A Motivating Vehicle For Sports Participation In Youth: A Cross-Sectional Study. Internasioanal Journal Of Behavioral Nutrition and Physical Activity, (online), 11: 48, (https://ijbnpa.biomedcentral.com/articles/10.1186/1479-5868-11-48), diakses 10 Maret 2016.

 

Ahmadi, Nuril. 2007. Panduan Olahraga Bola Voli. Solo: Pustaka Utama.

Ambarukmini, Dwi Hatmiasari dkk. 2009. Pelatihan Olahraga Anak Usia Dini. Jakarta: Asdep Pengembangan Tenaga dan Pembina Keolahragaan Deputi Bidang Peningkatan Prestasi dan Iptek Olahraga Kementrian Negara Pemuda dan Olahraga

 

Brian, Sharkey J. 2011. Kebugaran dan Kesehatan. Jakarta: Rajawali Press

 

BSNP. 2006. Standar Isi Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan. Jakarta: BNSP

 

Budiwanto, Setyo dan Muarifin. 2006. Evaluasi Dalam Pembelajaran Pendidikan Jasmani. Malang: FIP Universitas Negeri Malang

 

Carsiwan. 2005. Profil Kebugaran Jasmani Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Jurnal Wisata Olahraga, 1 (2): 1.

 

Desyandri. 2014. Prinsip Prinsip Dasar Teori Perkembangan, (Online), (https://desyandri.wordpress.com/2014/01/21/prinsip-prinsip-dasar-teori-perkembangan-arnold-gessel/), diakses 19 Maret 2016

 

Gallahue, David L. 1996. Developmental Physical Education For Today’s Children. Hinsdlae: Times Mirror Higher Education Group.

 

Harsuki. 2003. Perkembangan Olahraga Terkini ( Elias Soewatini, ED). Jakarta: Raja Grafindo Persada

 

 Janssen dan Leblanc. 2010 Systematic review of the health benefits of physical activity and fitness in school-aged children and youth. International Journal of Behavioral Nutrition and Physical Activity, (online), 7:40, (http://ijbnpa.biomedcentral.com/articles/10.1186/1479-5868-7-40), diakses 10 Maret 2016

 

Lutan, Rusli dkk. 1997. Manusia dan Olahraga. Bandung: ITB

 

Moelok, Dangsina dan Tjokronegoro, 1984. Kesehatan dan olahraga. Jakarta: Fakultas Kedokteran UI

 

Mutohir, Toho cholik dan Maksum, Ali. 2007. Sport Development Index. Jakarta: Index

 

Nasihuddin.2012. Studi Komparatif Tingkat Kesegaran Jasmani Siswa Putra Usia 10 -12 Tahun Pada SD Full Day dan SD Non Full Day di Kabupaten Probolinggo. Skripsi Tidak Diterbitkan. Malang: Perpustakan UM

 

Nurhasan. 2001. Tes dan Pengukuran Dalam Pendidikan Jasmani. Departemen Pendidikan Nasional Ditjen Pendidikan Dasar Dan Menengah

 

Ortega, FB., Ruiz, J. Physical In Childhood And Adolescence: a Powerful Marker of Health. International Journal of Obesity, (Online), 32: 1-11, (http://www.nature.com/ijo/journal/v32/n1/full/0803774a.html), diakses 10 Maret 2016.

 

Prasetyo, Bayu. 2006. Perbedaan Tingkat Kesegaran Jasmani Antara Siswa Putra Kelas VI SD Bremi 1 Kecamatan Krucil di Dataran Tinggi dan SD Kedung Dalem II Kacamatan Dringu di Dataran Rendah Kabupaten Probolinggo. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Perpustakaan UM

 

Pussegjas. 1986. Tes Kesegaran Jasmani di Indonesia untuk SD. Jakarta: DEPDIKBUD.

 

Rosdiani Dini. 2012. Model Pembelajaran Langsung Dalam Pendidikan Jasmani dan Kesehatan.  Bandung: Alfabeta

 

Safariatun, Siti. 2008. Azaz dan Falsafah pendidikan Jasmani. Jakarta: Universitas Terbuka

 

Sajoto, Mochamad. 1988. Pembinaan Kondidi Fisik Dalam Olahraga. Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Pendidikan.

 

Setiawan, Bayu. 2012. Perbandingan Tingkat Kebugaran Jasmani Siswa Putra Usia 10-12 Tahun Yang Tinggal Di Daerah Pegunungan dengan Daerah Pesisir Pantai Di Kabupaten Probolinggo. Skripsi Tidak Diterbitkan. Malang: Perpustakan UM.

 

Singer, Robert N. 1975. Motor Learning and Human Performance. New York: Macmillan Publishing.

 

Subroto, Toto. 2008. Strategi Pembelajaran Penjas. Jakarta: Universitas Terbuka

 

Sudarsini. 2013. Pendidikan Jasmani dan Olahraga. Malang: FIP Universitas Negeri Malang.

 

Soepartono. 2001. Uji Coba Atletik Untuk Pendidikan Jasmani Sekolah Dasar Dalam Bentuk Modifikasi. Jurnal Pendidikan Jasmani, 11 (1): 1–2.

 

Sugiyanto. 2007. Belajar Gerak, Pertumbuhan dan perkembangan, kepemimpinan olahraga. Jakarta: Kementrian Pemuda dan Olahraga

 

Sujiono, Bambang. 2014. Metode Pengembangan Fisik. Tanggerang: Universitas Terbuka

 

Sumantri, Mulyani. 2012. Karakteristik dan Kebutuhan Peserta Didik Usia Sekolah Dasar. Tanggerang: Universitas Terbuka.

 

Supranto, J. 2009. Statistik teori dan aplikasi (volume 7). Jakarta: Erlangga.

 

Syarifuddin, Aip dan Matakupan. 1982. Evaluasi Olahraga. Jakarta: Rora Karya.

 

Syarifuddin, Aip. 2007. Azas dan Falsafah Penjaskes. Jakarta: Universitas Terbuka.

 

Tisnowati dan Moekarto. 2004. Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Jakarta: Universitas Terbuka Departemen Pendidikan Nasional Pendidikan Nasional Ditjen Pendidikan Dasar Dan Menengah

 

Yayang. 2010. Perkembangan Pada Anak, (Online), (http://yayangy08.student.ipb.ac.id/2010/06/18/perkembangan-bahasa-pada-anak/), diakses 18 Maret 2016

 




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :


 

Komentar :


   Kembali ke Atas